Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Juli, 2009

“nu di dahar pangersa Gusti
nu ngadahar karsa Gusti”

Sampai saat ini aku masih melafalkan doa itu setiap aku makan atau setiap kali menerima komuni. Doa pendek yang puitis.
Mungkin 20 tahunan yang lalu aku diajarkan doa ini.
Beberapa tahun kemudian aku menyadari doa ini doa yang sangat dalam seperti sebuah mantra, doa yang berisi penyerahan diri sebesar – besarnya kepada Yang
Kuasa, bahwa manusia tak punya kuasa apapun atas diri dan apa yang disantapnya. semuanya atas kehendakNya.

Dan doa ini diajarkan “Abah” dulu sekali dan aku masih sering melafalkannya.

Dan satu hal yang kuingat tentang gereja yang ia katakan ialah “aku pergi ke gereja bukan hanya karena ingin berdoa saja, tetapi aku ingin bertemu dengan saudara – saudara dan teman – temanku, dimana lagi bisa ketemu kalo semua teman dan saudaraku sibuk selain di gereja seminggu sekali”. mungkin kata –
katanya tidak persis tetapi itulah yang dikatakannya. aku baru mengerti kata – katanya lama sekali.
Ketika aku melihat film kisah Yesus, yang pergi ke yerusalem, ke Bait suci, aku mengerti kata – katanya, saat aku melihat Yusuf, Maria dan Yesus bertemu dengan saudara – saudaranya.
Bagi abah gereja bukan lagi sekedar tempat berdoa kemudian pulang.Aku belajar kembali memaknai gereja dari kata – katanya.

Aku memanggilnya abah, nama lengkapnya Didimus Ero Suara.ia adik nenekku, paman bapakku.
Ia satu – satunya, “kakek” yang ku kenal, sebab kedua kakek kandungku tidak pernah kukenal.
selain karena rumah kami berdampingan,aku mengenalnya sejak kecil, jadi keluargaku cukup dekat dengannya.
Aku memanggilnya abah, dan semua kerabat tahu kalo yang dimaksud adalah abah ero. aku tidak perlu menyebut namanya di belakang abah.cukup dengan abah, tidak seperti “kakek” yang lain.
Aku memang tak pernah mengenal kakek-kakek kandungku, tapi bagiku abah adalah kakekku, yang juga telah mengajarkan banyak hal baik lewat tindakan maupun perkataannya.

Seperti orangtuanya, atau kakeknya, abah adalah seorang petani. Ia mempunyai kebun, ladang, dan sawah. Seumur hidupnya ia petani, sampai beberapa tahun yang lalu ia masih suka pergi ke sawah, kebun atau ladang, terutama ketika ema masih ada.
Ia dulu mempunyai kebun kopi, setiap musim panen aku suka membantunya memanennya bersama bapak ibuku, wangi kopi yang masak di pohon (dan tentu saja wangi bunga kopi) aku menyukainya. Kemudian kebun kopi itu berganti dengan kebun melinjo, kemudian kebun pisang.Mungkin waktu aku kelas 6 SD ia pernah memberikan golok kecil padaku dan juga sabit kecil. Tetapi yang kuingat dengan jelas adalah rancatan atau pikulan yang kecil, yang ia buatkan untukku ketika aku belajar memikul.
Sebuah pikulan yang pas untuk tubuh kecilku. Pikulannya nyaman di bahuku.Tetapi abah memang terkenal dengan pikulan buatnya, makanya sering sekali pikulannya jika dipinjam tidak kembali. Pikulan buatan abah begitu halus, lentur tapi kuat, tidak kaku, nyaman dan awet. abah betul betul memahami sifat bambu yang lentur tapi kuat.
Ia sangat sabar saat membuat pikulan, ia akan memilih bambu yang baik, membelah dan memotongnya, kemudian menjemur bambu itu selama beberapa hari, baru kemudian membentuknya, setelah terbentuk ia akan menyimpannya di atas perapian, setelah itu baru menghaluskannya.
Butuh beberapa hari, kadang beberapa minggu untuk sebuah pikulan.

Pikulan milikku hasil buatannya bisa bertahan beberapa tahun dan kuat.

Dulu aku sering merasa takut masuk ke kamarnya, ada sebuah keris kecil di dinding kamarnya (aku tidak pernah melihat persis sebenarnya, hanya diceritakan) karena dulu aku ditakut – takuti kalau keris itu suka berontak, suka mengeluarkan suara – suara di malam hari. Sampai besar pun aku tak pernah membuktikan untuk melihat keris itu, tetapi kadang – kaang aku melihat kamar itu dengan sembunyi – sembunyi dan takut – takut, tetapi aku melihat salib kecil di kamar itu. Terakhir aku masuk kamar waktu libur paskah (terakhir kali juga aku melihatnya) untuk pamit, ia sedang terbaring karena tidak enak badan, katanya, aku masih juga tidak berani apakah benar ada keris di kamar itu, mungkin ketakutan masa kecilku masih ada pada diriku.Tetapi bagian dari rumahnya yang aku suka sampai sekarang adalah dapur. Dapur yang hangat dengan hawu atau tungku kayu bakar. Dapur yang hangat, bukan hanya hangat api tetapi hangat oleh kasih sayang mereka, ema dan abah.Dapur menjadi tempat berkumpul terutama saat anak – anaknya datang.Setiap aku masuk ke rumahnya (pagi atau sore) aku akan ditawari kopi, kadang
– kadang kopi hasil dari kebunnya. Dan di dapur itu akan kudengar nasehat atau cerita tentang leluhur.

2 minggu yang lalu aku dikabari ibuku, abah tiada. Malamnya mungkin untuk sebuah kenangan, aku tidur berselimutkan sarung warna biru tua yang diberikan olehnya beberapa tahun yang lalu. sebuah sarung yang telah kulepas jahitannya (sarung itu bukan lagi sarung tetapi menjadi sebuah kain panjang).
Sarung itu telah kubawa kemana-mana, Kuningan, Jogja, Balikpapan, setiap kali melakukan perjalanan aku selalu membawanya, setiap mendaki gunung atau kemping aku juga membawanya, mungkin karena itu satu – satunya sarung sampai 3 tahun yang lalu.

Ya, kali ini aku ingin mengenangnya. Mengenang bau rokok minak jinggonya yang ia hisap sambil menyeruput kopi di dapurnya sambil memperhatikan ema yang sedang memasak. Mengenang gigi palsunya yang sering ia copot di depan adikku, untuk menakut – nakuti adikku yang kemudian menangis kaget karena melihat abah tiba tiba ompong.
mengenang tv hitam putihnya yang selalu kutuju setiap sore sebelum bapakku membeli tv (terutama sabtu sore menanti film nasional lalu malamnya bapak ibuku akan menyusul.
Mengenang nasehat nasehatnya juga cerita – ceritanya (bahkan terakhir ketemu pun ia masih memberi nasehat “jung mangkat, didoakeun ku abah, sing bener, bageur, cageur tur pinter”(berangkatlah, didoakan oleh abah, semoga benar, baik, sehat dan pintar)) dan saat cerita terakhir yang kudengar dari bapakku ia meminta dipesankan peti dari kayu jati, sebab jati itu lambang sejati ning hidup.
Mengenang cara ia berjalan sambil menggendong tangannya di belakang sepulang ia dari sawah.

Dan semiggu yang lalu, di hari ketujuh ia pergi, aku menengoknya di rumah barunya, di atas bukit dekat
kebunnya, di samping istrinya dan kutaburkan bunga di atas tanah merah itu sambil berdoa dan berucap

“Hatur nuhun, abah”

Read Full Post »