Feeds:
Pos
Komentar

Archive for September, 2009

Yudistira

Mungkin dari begitu banyak tokoh pewayangan yang paling sering diceritakan Bapak saya adalah Yudhistira,
Anak Sulung Pandawa,(selain itu Kumbakarna dan bambang Sukrasana).
Tentu saja, bapak saya sering menceritakan Yudhistira, karena Yudhistira adalah tokoh favorit dan idolanya,
ia begitu menyukai Yudhistira, sampai – sampai  setelah saya besar saya bertanya – tanya
kenapa saya tidak diberi nama Yudhistira.

Hari ini saya membaca catatan pinggir-nya Gunawan Muhamad yang berjudul “Yudhistira”. Dan saya teringat cerita cerita bapak saya.

Yudhistira atau Bapak saya lebih suka menyebutnya Samiaji karena mempunyai arti yang pas menurutnya, Sami Aji…
sama – sama hormat, menghormati sesama.
adalah tokoh pewayangan yang menurut bapak saya paling sempurna.
Darahnya pun putih, karena sangat sabar, tak bisa berbohong, tak bisa menolak permintaan orang lain.
bahkan saat akan Bharatayudha, ia sempat tidak ingin berperang, tetapi akhirnya bersedia
setelah dibujuk oleh Kresna dan saudara -saudaranya.
Bahkan  saat ia berjudi dan kemudian kalah pun,
itu bukan karena kesalahannya tetapi karena bujuk rayu dan tipu daya, bukan karena dia yang bersalah.
Ada beberapa kisah yang cukup sering diceritakan oleh Bapak, saat saya kecil, salah satunya,
saat ia harus berbohong kepada Dorna, Guru yang ia hormati,
agar Dorna menjadi lemah dan bisa dibunuh.
Agar ia berteriak bahwa Awatama, putra Dorna, gugur,
walaupun sebenarnya yang mati juga bernama Aswatama tetapi seekor gajah.
Bahkan kebohongannya pun diselimuti dengan sebuah cerita
bahwa ia sebenarnya tidak berbohong karena yang mati
yang mati adalah juga bernama Aswatama, seekor Gajah.
bahkan setelah kematiannya Dorna pun ia menyesali,ia merasa bersalah.

Dan cerita kesempurnaannya pun,semakin sering diceritakan Bapak saya,
Bagaimana ia tidak merasa berhak untuk mengawini Drupadi karena yang memenangkan sayembara adalah Arjuna,
baru setelah dibujuk Kunthi ia bersedia menikahi Drupadi (dalam versi Mahabrata India,
Drupadi dikawini 5 Pandawa supaya adil)
Atau pada saat dicobai oleh Dewa Yama, adik adiknya meninggal semua,
saat ia harus memilih dari 4 adiknya, siapa yang dihidupkan ia memilih Nakula,
agar tidak hanya Putra Kunthi yang hidup tetapi juga Putra Dewi Madrim.
atau mungkin kisah yang bisa menunjukkan kesempurnaan Yudhistira,
di akhir cerita saat ia memilih untuk bersama saudara – saudaranya Pandawa di neraka daripada
tinggal di Surga tetapi hidup bersama Kurawa.
Sebelumnya bahkan ia memilih anjingnya daripada naik kereta kencana langsung ke surga,
karena anjingnya telah setia menemaninya.

Dulu saya selalu antusias dengan mata yang terpesona setiap kali Bapak bercerita tentang Yudhistira.
Dalam bayangan saya ketika saya kecil, Yudhistira adalah sosok yang ganteng, baik,
sempurna, tidak pernah berbohong, sabar,setia dan mencintai adik – adiknya dan menjadi tauladan bagi mereka
(mungkin bapak saya juga berharap saya seperti Yudhistira bagi adik – adik saya, menjadi kakak sulung yang baik)

Tetapi semakin besar saya jadi merasa bahwa Ia sosok yang terlalu sempurna sebagai manusia,
adakah manusia yang bisa sebaik itu dan sesempurna itu?
Saya membayangkan dengan sosok yang begitu smepurna, ia akan menyimpan begitu banyak rasa sakit,
menyimpan kesakitan – kesakitan.
Saya membayangkan saat Bharatayudha selesai, dan kemenangan ada di pihaknya, sambil memandang Kurusetra yang
merah dan penuh dengan jenasah saudara – saudaranya dan prajurit prajurit, apakah ia merasa sakit?
Menyesali peperangan yang telah terjadi dan kemudian merasa sangat bersalah?
Saya membayangkan sambil duduk di singasana, mencium bau amis darah dan tangis anak dan istri prajurit yang gugur,
ia mungkin tepekur.
Ya, di kisah Mahabharata memang diceritakan bahwa Yudhistira menyesali peperangan itu yang akhirnya
diredakan kegelisahnnya oleh Sri Kresna dan Resi Abiyasa.
Tetapi aku tetap membayangkan kegelisahan dan rasa sakit yang mendera dirinya.
Mungkin jika ia hidup di jaman sekarang, bukan di dunia pewayangan, ia akan sangat menderita.

Dan mungkin gara – gara sering diceritakan oleh Bapak saya, ia pun menjadi tokoh favorit saya di dunia pewayangan.

Iklan

Read Full Post »

Kuningan yang saya ingat….

Apa yang bisa diingat dari sebuah kota? Selama hampir 2 bulan kemarin Kuningan lebih sering terdengar di berita – berita baik televise, radio atau Koran. Hampir tiap hari Kuningan menjadi berita yang terkait terorisme. Dan beberapa hari yang lalu tepatnya, 1 September, Kuningan berulangtahun yang ke 511. Sebelum itu apa yang bisa diketahui orang tentang Kuningan? Saya lahir dan menghabiskan remaja di Kuningan, setelah itu Kuningan hampir hanya menjadi sebuah kota tempat saya pulang sejenak, yang saya datangi minimal setahun sekali, ingatan saya tentang kota itu berarti ingatan sekitar 15 tahun yang lalu. Teman – teman saya di Jogja mengenal Kuningan sebagai pemasok penjual burjo alias bubur kacang ijo (warung tempat makan, saat paceklik dan saat insomnia datang) sementara teman – teman saya pendaki gunung mengenal Kuningan dengan Gunung Ciremainya. Sementara mungkin teman – teman dari daerah Priangan mengenal Kuningan dengan bahasa sunda yang kasar (dengan pengaruh bahasa jawa) dan logat sunda yang aneh menurut mereka. Atau mengenal kudanya dengan istilah “Leutik – leutik kuda kuningan”(kecil kecil kuda kuningan). Sebelum berita – berita itu orang mengenal kata Kuningan sebagai bagian dari Jakarta, dan kadang – kadang saya harus menjelaskan dimanakah Kuningan berada jika teman bicara saya mengatakan “oh orang jakarta”.(tetapi beberapa hari yang lalu saya menemukan gang bernama Gang KUningan di Balikpapan. dan di Jogja, ada daerah Kuningan juga di sebelah timur Mesjid UGM. Mungkin di tempat – tempat itu banyak orang dari kuningan. Saya mengingat Kuningan dalam kegembiraan masa kecil, sebuah keajaiban masa lalu, yang akan membuat saya bahagia jika saya diajak pergi ke sana. Mungkin bagi saya waktu itu, Kuningan seperti Jakarta di mata orang – orang daerah, Kota yang megah, yang membuat terpana. Saya selalu menyambut antusias jika diajak ke Kuningan, menyusuri jalanannya yang ramai (saat kecil, itu mungkin jalan yang teramai yang saya lihat) , kemudian naik delman, dan membeli hucap di Pasar Kepuh atau di depan kantor pos. Pergi ke Kuningan saat saya kecil, merupakan sesuatu hal yang istimewa, walaupun hanya berjarak 3, 5 Km dari desa saya. Saya juga mendengarkan dongeng – dongeng Bapak saya tentang Seweukarma dan Dangiang Kuning, tentang Arya Adipati Kuningan (setelah itu dibarengin protes kenpa ahari lahirnya tanggal 1 September, setelah berdirinya kerajaan islam kuningan, bukan sejak jaman kerajaan hindu..) Saat saya memasuki masa – masa SMP, pergi ke Kota Kuningan, bukan hal yang istimewa lagi, sesuatu yang biasa, saya bisa melakukannya tiap saat, setiap minggu sekali, naik angkutan pedesaan atau jalan kaki beramai – ramai melewati pesawahan. Hilang antusiasme dan mulai malu saatdiajak naik andong. Kadang – kadang saya dan teman – teman menonton film di bioskop murah, di Kuning Ayu kemudian ada bioskop di Plaza Kuningan. Seperti bioskop di kota lainnya pun akhirnya mereka berguguran, tak ada lagi bisokop. Menginjak SMA, pergi ke Kuningan sama sekali sesuatu yang biasa, maklum setiap hari saya melakukannya, bahkan mungkin pergi ke Kuningan selalu diiringi sedikit rasa malas, saya sekolah di sebuah SMA negeri di pusat kota. Setiap pagi, setiap jam 6:30 saya berangkat, terlalu sering terlambat gara – gara itu. Saya jadi mengenal cukup jauh ibukota kabupaten saya. Mengenal jalan – jalannya yang saya lewati setiap hari, bangunan – bangunan, toko – tokonya. Jalan protocol yang membujur dari utara ke selatan, bernama Jalan Silihwangi (tentu saja nama jalan yang sangat khas di Tatar Sunda), yang berujung di Plaza Kuningan (yang sudah berganti menjadi taman kota), yang di depannya ada Mesjid Agung Kuningan (setelah saya ingat ingat terus menerus di bangun). Banyak ingatan tentang kota ini. Tetapi apakah cukup untuk mengenalnya? Tidak. Tak ada yang bisa mengenal sebuah kota dengan utuh. Sebuah kota sellau memiliki sudut – sudut tersembunyi, kemuraman – kemuraman yang disembunyikan di balik lampu – lampu yang terang, bangunan – bangunan yang megah. Dan tentu saja jika seseorang malu (seperti kata seseorang) bahwa ia malu berasal dari Kuningan karena Kuninagn menjadi dikenal sebagai sarang teroris? Itu adalah bukan hal yang aneh, karena saya pikir ia tidak memahami bahwa sebuah kota begitu komplek, begitu rumit untuk dipahami secara utuh. Saya mengenal Kuningan sebagai kota masa kecil dan remaja saya, setelah itu Kuningan menjadi sebuah tempat untuk pulang. Bagaimanapun Kuningan adalah kota saya, dan saya bangga. Saya bangga mengatakan semua pedagang burjo itu dari Kuningan. Saya bangga dengan Ciremai-nya. Saya bangga bahsa sunda dengan logat kuningan yang dianggap aneh. Saya bangga mengatakan bahwa saya dari Kuningan Selamat Ulang Tahun Kuningan!!! Rapih Winangun Kerta Raharja!

Read Full Post »